MEMBURU


Ditulis oleh Dimita Prescillia ketika mengikuti Camp Wanadri didaerah
perbatasan segitiga; antara Sumedang, Bandung, dan Garut. Nama
tempatnya Kareumbi, keatas lagi dari Curug Cinulang.
***
Pagi itu untuk kesekian kalinya, suara riuh terdengar mendayu - dayu
dari hulu. Menggelitik telinga, merasuk dalam sanubari, bahkan
bersemayam dalam mimpi.
Aku tersadar bahwa alam memangilku jika aku merindukannya. Entahlah,
apakah alam memangilku atau aku yang memangilnya? Aku yakin, bahwa
akulah yang memangilnya. Membuat kerinduanku meluap terbang bagai
ditiup angin. Begitu ringan.
***
Bersama seorang sahabat. Keluar dari rombongan Wanadri. Pergi
menjelajah berdua. Berburu keindahan dengan menggunakan kamera foto.
Kami 2 gadis pemberani. Tidak takut tersesat. Bila tersesat didalam
hutan, ikuti saja suara alam; hembusan semilir angin, dedaunan yang
bergemerisik, rumput - rumput yang bernyanyi, bunga - bunga liar yang
bergoyang, bahkan ikuti air yang menggelegak mengalir. Ikuti saja dan
rasakan dengan mata hati. Ada irama yang tak beraturan. Namun, tetap
seirama dan selaras. Mengalun tentramkan hati, sejukan jiwa. Inilah
setitik Maha Karya Agung Tuhan Raja Semesta Alam.
***
Tiba dijembatan sederhana yang terbuat dari kayu. Dan, dibawah
jembatan ini, terdapat rawa dengan airnya yang jernih sebening kaca.
Segar menggairahkan.
Saat tangan kami menyentuh air rawa ini, ingin rasanya menceburkan
diri. Tak tahan merasakan sensasi kesegeraran air rawa. Tetapi
keinginan itu urung. Padahal, kami adalah 2 gadis yang belum mandi.
Kami lepas sepatu dan menggulung celana jeans seadanya agar tidak
kebasahan saat merendam kedua kaki di air rawa dengan posisi menduduki
rerumputan dan tanaman perdu yang telah mengering. Sensasi kesegeraran
air rawa ini kembali meresap ke jiwa, yang menjalar dari ujung jempol
kaki hingga ke ubun -ubun kepala. Mengalir seperti andrenalin yang
deras. Efek menyegarkan ini dapat membantu ringankan beban hidup yang
berat bila dipikirkan. Setelah kesegaran menguasai tubuh. kami mulai
mengambil objek foto. Begitu alami khas rawa pegunungan.
Tampak sebatang Pohon mati. Sepertinya akar pohon itu kesulitan
bernafas akibat terendam permukaan air yang meninggi.
Gambar -gambar pemandangan yang mampu menarik hati, kami abadikan
dengan jepretan foto. Menjadi kenangan pribadi yang tak terlupakan


1 Komentar:
wah ni karya mbak Dimita.Bertema alam.jadi nambah ilmu nich...
Posting Komentar
Terimakasih...
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda